Simpang pematang – Mesuji
Pemandangan yang mengharukan dan penuh semangat terlihat di sepanjang pinggir Jalan Jendral Sudirman, tepat di jantung Desa Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji. Ratusan lapak dadakan yang terbuat dari kayu dan tenda yang disiapkan panitia Di sanalah, geliat ekonomi dan spiritual berpadu menjadi satu dalam Pasar Ramadhan yang hanya muncul setahun sekali. Aneka ragam makanan dan minuman untuk persiapan berbuka puasa tersaji rapi; dari kolak pisang yang legit, es campur dengan sirup merah yang menyegarkan, gorengan hangat yang mengepul, hingga aneka kue basah dan lauk-pauk siap santap.
Suara tawar-menawar bercampur gelak tawa anak-anak yang berlarian, menciptakan simfoni khas yang hanya terdengar di bulan suci.
Hari itu, tepat tanggal 4 Syawal, yang juga merupakan hari ke empat umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Mentari sore mulai condong ke barat, mewarnai langit Mesuji dengan jingga yang temaram. Lokasinya berada di pusat keramaian Desa Simpang Pematang, tepat di arteri Jalan Jendral Sudirman. Jalan yang biasanya menjadi jalur lintas antar-kecamatan itu, pada sore hari berubah menjadi lautan manusia yang haus akan berkah dan takjil. Minggu 22/2/2026.
Seluruh lapisan masyarakat tumpah ruah. Ada para ibu-ibu paruh baya dengan kerudung lusuhnya yang dengan cekatan melayani pembeli sambil sesekali menyeka peluh di dahi. Ada para bapak-bapak yang baru pulang dari ladang singkong atau sawit, mampir untuk membawakan oleh-oleh berbuka untuk istri dan anak di rumah. Yang paling mencuri perhatian adalah anak-anak kecil dengan uang receh di genggaman, berdiri lama di depan lapak es, mata mereka berbinar menanti seteguk manisnya berbuka. Juga ada para pemuda yang sigap membantu orang tua mereka mendirikan tenda dan mengangkat dagangan.
Hari pertama Ramadhan selalu menjadi momen yang istimewa. Ini adalah saat yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam, yaitu bulan yang penuh berkah dan ampunan. Setelah setahun berlalu, kerinduan akan datangnya bulan mulia ini begitu terasa. Antusiasme ini bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan perut semata. Lebih dari itu, berbelanja di pasar Ramadhan adalah sebuah tradisi yang mempererat tali silaturahmi antarwarga. Saling sapa, melempar senyum, dan berbagi kabar menjadi hidangan rohani yang menyertai setiap transaksi jual beli.
Kesederhanaan justru menjadi lukisan yang paling indah di sore itu. Seorang kakek tua renta dengan sabar menunggui dagangan kue cucurnya, berharap dapat rezeki untuk berbuka bersama cucu di rumah. Di lapak lain, seorang gadis cilik dengan baju lusuh, namun hati yang mulia, terlihat hanya membeli satu buah gorengan, lalu sisanya ia sodorkan ke adiknya yang masih kecil. Adegan itu sontak membuat para pengunjung lain tersentuh.
Di tengah hiruk-pikuk duniawi itu, semangat ibadah terpancar jelas. Masyarakat Mesuji meyakini betul bahwa memberi makan orang berbuka puasa adalah amalan yang mulia. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
“Barangsiapa memberi makan orang yang berbuka puasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Keyakinan inilah yang membuat banyak pembeli tidak hanya membeli untuk diri sendiri, tetapi juga membeli lebih untuk diberikan kepada tetangga atau musafir yang kebetulan lewat. Ada rasa bahagia yang tak terkira ketika melihat senyuman orang lain saat menerima tajil. Di Pasar Simpang Pematang yang sederhana ini, nilai-nilai luhur Islam tentang berbagi dan empati benar-benar hidup dan diamalkan.
Saat azan Maghrib berkumandang, perlahan-lahan keramaian pasar mulai surut. Masyarakat bergegas pulang, membawa kantong plastik berisi makanan dan segenggam kebahagiaan. Di setiap rumah sederhana di sepanjang Desa Simpang Pematang, doa-doa dipanjatkan, lantunan takbir dan tahmid bergema, menyambut tetesan pertama air putih yang membatalkan puasa. Inilah potret Ramadhan yang sesungguhnya di pelosok negeri: sederhana dalam materi, namun megah dalam kebersamaan dan ketaqwaan. Bulan yang penuh berkah dan ampunan telah hadir, menyatukan hati, dan mengingatkan kita bahwa nikmat terbesar bukanlah pada makanan yang tersaji, melainkan pada kehangatan iman yang terus menyala di dalam dada.












